Cintailah Saudaramu Seperti Mencintai Diri Sendiri – Ustadz Dedi Fadilah

Bismillah,

Pelajaran Hadits 13
عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.
(Hadits ini dikeluarkan oleh Iman Al Bukhari dan Imam Muslim )

FAIDAH HADITS

Dari hadits ini, dapat diambil beberapa faidah, diantaranya:

Pertama : Boleh menafikan sesuatu karena tidak sempurna, dengan dalil sabda Rasulullah.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dan yang sejenis (hadits) ini adalah sabda Beliau.

لاَيُؤْمِنُ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak sempurna iman seseorang, yang tetangganya tidak aman dari kejahilannya (gangguannya)”.[ HR Al Bukhari dalam Shahih-nya ]

Diantara contoh lain bolehnya menafikan sesuatu karena hilangnya kesempurnaan sesuatu itu, adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ

Maknanya, tidak ada shalat yang sempurna, karena hati orang yang shalat akan sibuk (terganggu) dengan makanan yang telah dihidangkan, dan banyak contoh lainnya.

Kedua : Kewajiban seseorang untuk mencintai buat saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Karena penafian (kesempurnaan) iman dari orang yang tidak mencintai buat saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya (dalam hadits) menunjukkan bahwa hal tersebut wajib. Sebab tidak dinafikan iman, kecuali karena hilangnya kewajiban iman, atau adanya hal yang bertentangan dengannya.

Ketiga : Peringatan dari sikap hasad (iri, dengki), karena orang yang hasad tidak mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya; bahkan ia mengharapkan agar nikmat Allah hilang dari saudaranya seislam. Para ulama berselisih dalam tafsir hasad. Sebagian mendefinisikan hasad, adalah mengharap hilangnya nikmat dari orang lain. Sebagian ulama yang lain menyatakan, hasad adalah rasa tidak suka terhadap nikmat Allah atas orang lain. Inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau t mengatakan,“Jika seorang hamba membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, berarti ia telah hasad kepadanya, walaupun ia tidak mengharapkan hilangnya nikmat tersebut.”

Keempat : Hendaklah menyampaikan perkataan yang berisi ajakan beramal, karena itu termasuk kefasihan. Yang menjadi dalil dari hadits adalah sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam : لأَخِيْه karena hal ini menunjukkan lemah-lembut, kasih dan sayang.

Contoh serupa terdapat pada firman Allah tentang ayat qishash:

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءُُ

“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik.” [Al Baqarah:178].

Padahal ia yang membunuh untuk menampakan kelembutan dan kasih sayang kepada al mukhothob (yang ditujukan pembicaraan, Pent).

Jika ada yang menyatakan: Masalah ini terkadang susah (sulit diamalkan-red). maksudnya bahwa mencintai untuk saudara sesuatu yang kamu cintai untuk dirimu, dengan pengertian, menginginkan saudaramu agar menjadi alim, menjadi kaya, menjadi orang yang banyak harta dan anaknya dan menjadi seorang yang istiqomah, ini semua adalah perkara yang terkadang susah. Jawabnya: Ini tidak susah, jika kamu telah membiasakan jiwamu berbuat demikian. Latihlah jiwamu untuk berbuat demikian, niscaya akan mudah. Namun jika kamu mentaati jiwamu dalam hawa nafsunya, maka benarlah hal itu akan menjadi berat.

Jika seorang murid bertanya: Apakah termasuk dalam hal ini, saya mencontekkan kepada teman saya dalam ujian, karena saya ingin lulus ujian sehingga saya memberikan contekan kepadanya agar ia lulus ujian juga? Jawabnya: Tidak ! Karena itu merupakan penipuan. Perbuatan ini, sebenarnya adalah perbuatan jelek kepada saudaramu, bukan perbuatan baik padanya. Karena jika kamu telah membiasakan ia berkhianat, maka ia akan menjadi terbiasa melakukannya. Dan karena engkau juga dengan memberikan contekkan berarti engkau telah menipunya, dimana ia akan membawa ijazah, yang sebenarnya ia tidak pantas menyandangnya.

Wallahu al muwaffiq.

 

Posted by Redaksi Attauhid

ATTAUHID.NET adalah media informasi dan dakwah Masjid At-Tauhid yang beralamat di Rt. 01 Rw. 05 Pajeleran, Sukahati, Cibinong

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *