Etika Dalam Berbisnis (Bagian 1)

komunitas-bisnis

Gambar: www.akuratpost.com

 

Ditulis oleh ; Ustadz Abdurrahman Thoyyib
Islam adalah satu-satunya agama yang haq di atas muka bumi ini. Allah berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS.Ali Imran 19)

Allah juga berfirman:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS.Ali Imran : 85)

Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna. Allah berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”
(QS.Al-Maidah : 3)

Islam merupakan agama yang mencakup semua bidang kehidupan manusia. Islam bukan hanya mengajarkan kepada manusia tentang aqidah/keyakinan semata, meskipun aqidah merupakan prioritas utama. Islam juga bukan ritual ibadah semata. Namun lebih dari itu, Islam mengajarkan kepada kita bagaimana berakhlak kepada sesama manusia baik yang muslim ataupun yang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنّـَمَا بُعِثْتُ لأُتـَمـِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [ HR.Bukhhari di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah 1/112. ]

Akhlak menurut ulama ahlussunnah wal jama’ah merupakan penyempurna aqidah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullahu- :

وَيَدْعُونَ إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ، وَيَعْتَقِدُونَ مَعْنَى قَوْلِهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: «أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيـمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا». وَيَنْدُبُونَ إِلَى أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ. وَيَأْمُرُونَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ، وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ، وَالرِّفْقِ بِالْمَمْلُوكِ. وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْفَخْرِ، وَالْخُيَلَاءِ، وَالْبَغْيِ، وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى الْخَلْقِ بِحَقٍّ أَوْ بِغَيْرِ حَقٍّ. وَيَأْمُرُونَ بِـمَعَالِي الْأَخْلَاقِ، وَيَنْهَوْنَ عَنْ سَفْسَافِهَا. وَكُلُّ مَا يَقُولُونَهُ وَيَفْعَلُونَهُ مِنْ هَذَا وَغَيْرِهِ؛ فَإِنّـَمَا هُمْ فِيهِ مُتَّبِعُونَ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَطَرِيقَتُهُمْ هِيَ دِينُ الْإِسْلَامِ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ahlussunnah wal Jama’ah (disamping berpegang teguh dengan aqidah shohihah) mereka juga menyeru kepada akhlak yang mulia dan etika yang baik. Mereka meyakini makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”. Mereka menganjurkan untuk menyambung tali silaturahim kepada yang memutuskannya dan memberi kepada orang-orang yang tidak mau memberi serta memaafkan yang mendzalimi. Mereka menyeru untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturahim, berbuat baik kepada tetangga, kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan kepada budak sahaya. Mereka melarang dari sifat sombong, congkak, melampaui batas, meremehkan orang lain dengan hak atau tanpa hak. Mereka menyeru untuk berakhlak yang mulia dan melarang dari akhlak yang buruk. Apa yang mereka ucapkan dan laksanakan dari semua ini hanyalah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah.” [ Al-Aqidah Al-Wasithiyah hal.166 dengan Syarah Syaikh Shaleh Al-Fauzan ]

Islam juga mengajarkan kepada umatnya bagaimana berakhlak/beretika dalam berbisnis. Diantaranya adalah:

1. Ikhlas

Seorang muslim dalam memulai semua aktivitasnya hendaknya menata niatnya. Perbuatan yang asal hukumnya mubah seperti bisnis bisa berbuah pahala jika diniatkan ikhlas karena Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya.” [HR Bukhori]

Hal-hal yang mubah jika diiringi oleh niat yang baik maka itu akan menjadi ladang kebaikan dan pelakunya akan diberi pahala karenanya. Barangsiapa yang makan dan minum dengan niat untuk lebih kuat dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia akan diberi pahala atas niatnya tersebut. Demikian pula orang yang mencari nafkah bertujuan menjaga diri dari mengemis serta untuk menafkahi diri dan keluarganya maka dia akan diberi pahala atas niatnya tersebut. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu:

إنك لن تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله إلا أجرت عليها حتى ما تجعل في في امرأتك

“Tidakkah engkau memberi nafkah yang dengannya engkau mengharap pahala dari Allah melainkan engkau diberi pahala atasnya, hingga (sesuap nasi) yang engkau masukkan ke mulut istrimu.” [HR Bukhori]

Imam An-Nawawi –rahimahullahu- berkata:
Menyuapi istri itu kebanyakan dilakukan saat bercumbu dan karena syahwat. Meskipun demikian, apabila diniatkan untuk mencari pahala maka dia akan mendapatkannya dengan karunia dari Allah. [ Fathul Baari Syarhu Shahih Al-Bukhari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalaani 1/181 ]

2. Amanah

[ Point 2-5 diringkas dari Makalah yang berjudul Arba’u Rakaaiz lii attaajir al-muslim yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr, dari www.al-badr.net dengan sedikit pengaturan.]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أربع إذا كن فيك فلا عليك ما فاتك من الدنيا : حفظ أمانة, وصدق حديث, وحسن خليقة, وعفة في طعمة

“Empat perangai apabila ada pada diri anda maka tidaklah memadharatkan anda jika dunia ini lepas darimu : Menjaga amanah, jujur dalam berbicara, akhlak yang mulia dan kesucian makanan.” [ HR.Ahmad ]

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr –hafidzahullahu- berkata:
“Ini adalah hadits yang agung, selayaknya bagi setiap pebisnis muslim untuk merenungkannya dan selalu mengingatnya. Bahkan seyogyanya untuk disebar luaskan diantara para pebisnis dan di tengah-tengah pasar sehingga bisa meluruskan langkah dan etika para pebisnis dalam bisnis mereka. Yang demikian itu dengan menjadikan empat hal ini sebagai pondasi yang kokoh yang tidak bisa ditawar-tawar lagi meski dengan keuntungan yang besar. Di dalam hadits ini juga terdapat obat mujarab untuk memperbaiki kerusakan besar yang terjadi dalam akhlak manusia (pebisnis) ketika mereka sudah tamak kepada dunia dan mengejar keuntungan semata.”

Seorang pebisnis muslim selalu menjaga amanah dalam setiap muamalahnya. Dia tidak menipu, merekayasa, dan tidak membuat makar. Dia menjaga amanah dalam hak-hak manusia dan harta mereka. Bahkan dia tidak mau mengkhianati orang yang mengkhianatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أد الأمانة إلى من ائتمنك ولا تخن من خانك

“Tunaikan amanah kepada yang memberikanmmu amanah dan jangan engkau mengkhianati yang mengkhianatimu.” [ HR.Ahmad ]

3. Jujur

Seorang pebisnis muslim tidak berdusta bahkan dia selalu jujur. Ketika berbicara dengan manusia dalam jual beli selalu jujur. Jika dia berkata kepada para pembeli “ini adalah barang baru” dia betul-betul jujur. Dan dia berkata di dalam dirinya “untuk apa aku meraup keuntungan yang banyak tapi aku menjadi pendusta”?! Sedangkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار

“Jauhkanlah diri kalian dari berdusta, karena berdusta itu mengantarkan kepada kefajiran dan kefajiran itu mengantarkan kepada api neraka.” [ HR.Muslim ]

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم : المسبل إزاره والمنان بما أعطى والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

“Tiga golongan manusia yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan serta bagi mereka adzab yang pedih: orang yang menjulurkan kain sarung (celananya hingga menutupi mata kaki), orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah dusta” [ HR.Muslim ]

4. Perangai yang baik

Seorang pebisnis muslim bermuamalah dengan manusia dengan akhlak yang baik dan adab yang mulia. Seorang yang bergelut dengan bisnis dia menyaksikan berbagai macam akhlak manusia dan tabiat mereka serta mendapati banyak manusia yang tidak baik akhlaknya. Terkadang hal itu bisa mempengaruhi perangai dan akhlaknya, jika dia tidak betul-betul menjaga akhlaknya. Berapa banyak para pebisnis yang menjual akhlaknya yang mulia di pasar, hingga dia menjadi orang yang suka melaknat, mencaci maki, dan kotor ucapannya. Apa manfaatnya bagi seorang pebisnis muslim jika dia meraup keuntungan banyak tapi dia harus menggadaikan akhlaknya yang mulia? Padahal ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang amalan apa saja yang banyak memasukkan manusia ke dalam surga beliau menjawab:

تَقْوَى اللهِ وَحُسنُ الخُلُقِ

“Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” [ HR.Tirmidzi]

BERSAMBUNG…………

Semoga Bermanfaat

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *