Maaf-maafan Sebelum Ramadhan

salaman

Soal :

Assalaamualaikum ustadz.

Afwan ana mau tanya lagi. Adakah dalil/hadits dari rasulullah SAW yang memerintahkan untuk maaf2an sebelum ramadhan tiba?

Jawab :

Alaikumussalam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di Neraka” (HR. Bukhari no.110 dan Muslim no.30, hadits dari Abu Hurairah)

سَيَكُوْنُ فىِ آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتىِ يُحَدِّثُوْنَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَ لاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَ إِيَّاهُمْ

“Pada akhir zaman nanti akan ada para dajjal pendusta. Mereka akan datang kepada kalian untuk memberitakan berita yang tidak pernah didengar oleh kalian dan juga oleh bapak-bapak kalian. Oleh karena itu berhati-hatilah kalian kepada mereka. Sehingga mereka tidak akan bisa menyesatkan kalian dan juga tidak bisa menebar fitnah kepada diri kalian” (HR. Muslim no.7, hadits dari Abu Hurairah)

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap pendusta ketika dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa saja yang dia dengar” (HR. Muslim no.5 dan Abu Dawud no.4992, hadits dari Abu Hurairah, lihat ash-Shahiihah no.205).
Banyak hadits-hadits yang beredar pada setiap Nishfu Sya’ban, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata seperti itu, diantaranya adalah :

“Ketika Rasulullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Aamiin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasulullah mengatakan Aamiin terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamiin. Tetapi para sahabat bingung, kenapa Rasulullah berkata Aamiin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, kemudian beliau menjelaskan : “Ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, wahai Rasulullah aminkan do’aku ini”

Do’a Malaikat Jibril itu adalah :

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut :

(1). Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya.

(2). Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri.

(3). Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang di sekitarnya.

Hadits do’a Malaikat Jibril itu tidak terdapat di kitab-kitab hadits, sudah dicari dalam kitab-kitab hadits, kitab-kitab tafsir, kitab-kitab karya Syaikh al-Albani dan juga di kitab-kitab takhrij, semuanya berjumlah 184 kitab tapi hadits itu tidak ditemukan. Hadits ini gharib (asing), la asla lahu (tidak ada asalnya) dan palsu.

Coba saja tanyakan kepada orang yang telah mengirimkannya, pasti dia tidak akan bisa menginfokan dari mana sumber hadits itu.

Riwayat yang benar tentang doa Malaikat Jibril yaitu hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رقي المنبر فقال : آمين ، آمين ، آمين ، فقيل له : يا رسول الله ، ما كنت تصنع هذا ؟ فقال: قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بَعُدَ دخل رمضان فلم يُغفر له ، فقلت : آمين ، ثم قال : رغم أنف عبدٍ أو بَعُدَ أدرك والديه أو أحدهما لم يُدخله الجنة ، فقلت : آمين ، ثم قال : رغم أنف عبد أو بَعُدَ ذُكِرتَ عنده فلم يصل عليك ، فقلت : آمين

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar dan mengatakan : “Aamiin, aamiin, aamiin. Lalu seseorang bertanya kepada beliau : “Wahai Rasulullah, apa yang sedang engkau lakukan ?” Beliau menjawab : “Malaikat Jibril berkata kepadaku : “Semoga Allah mencelakakan seorang hamba atau menjauhkannya, (yaitu) orang yang  mendapatkan bulan Ramadhan, tetapi dirinya tidak mendapatkan ampunan. Maka aku pun berkata : “Aamiin”. Kemudian (Jibril) mengatakan: “Celakalah seorang hamba atau dijauhkan, (yaitu) orang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah salah satu dari keduanya (masih hidup), akan tetapi hal itu  tidak memasukkannya ke Surga”. Maka aku pun mengatakan : “Aamiin”. Kemudian (Jibril) mengatakan lagi : “Semoga Allah mencelakakan seorang hamba atau menjauhkannya, disebutkan namamu, tetapi dia tidak bershalawat kepadamu”. Maka akupun berkata : “Aamiin”.

(HR. Ibnu Khuzaimah, lafadz hadits berasal darinya, at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim).

Hadits ini derajatnya hasan shahih, lihat Imam al-Mundziri dalam at-Targhiib wat Tarhiib, 2/114, 2/406, 2/407 dan 3/295, Imam adz-Dzahabi dalam al-Madzhab IV/1682, Imam al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid VIII/142, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Qaulul Badi‘ no. 212 dan Imam al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib no. 1679 dan Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 3510)

Dalam riwayat lain yang mirip teks haditsnya yaitu HR. Al-Bazzar dalam Majma’uz Zawaid X/1675-166 dan al-Hakim IV/153, haditsnya dishahihkan dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi, hadits dari Ka’ab bin Ujrah, kemudian diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 644, lihat Shahih al-Adabul Mufrad no. 500, hadits dari Jabir bin Abdillah.

Meminta maaf adalah tatkala melakukan kesalahan tidak perlu menunggu momen tertentu

Jadi bisa dipastikan saling meminta maaf menjelang Ramadhan adalah Bid’ah

Wallahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Dedi Fadilah ibnu Zubair – hafidzohulloh

Posted by Redaksi Attauhid

ATTAUHID.NET adalah media informasi dan dakwah Masjid At-Tauhid yang beralamat di Rt. 01 Rw. 05 Pajeleran, Sukahati, Cibinong

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *