Macam-macam Najis (Bagian Pertama)

Ditulis oleh : Azhar Khalid Seff LC., MA.

Pengertian Najis

Najis adalah kotoran yang harus dibersihkan dan dibasuh pada bagian yang terkena. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 4)

Dia juga berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, ‘Haidh itu adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita pada waktu haidh. Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Najis adalah segala sesuatu yang kotor dan menjijikan menurut Allah dan Rasulullah. Tidak semua sesuatu yang menurut manusia kotor dan jijik adalah najis.

Ulama sepakat segala sesuatu yang keluar dari wajah dan muka manusia, baik sesuatu yang keluar dari mata,hidung,mulut dan telinga adalah suci dan tidak najis.

Dan mereka juga sepakat segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur manusia semuanya adalah najis kecuali air mani. Air mani adalah suci dan tidak najis berdasarkan hadist dari Ibunda Aisyah radiallahu anha.

Para ulama juga sepakat segala binatang yang haram dimakan kotorannya adalah najis kecuali binatang-binatang yang tidak ada darahnya.

Adapun kotoran binatang yang halal para ulama berbeda pendapat, apakah najis ataukan suci (Penulis lebih condong memilih pendapat yang mengatakan bahwa kotoran binatang yang halal pun najis berdasarkan hadist dari Abu Hurairah,Abu Said al-Khudri dan Abdullah ibnu Mas’ud radiyallahu anhum)

Di antara najis-najis tersebut adalah sebagai berikut:

A. Air Kencing dan Kotoran Manusia.

Menyucikan kedua hal tersebut dapat dilakukan dengan membasuh dan menghilangkannya dengan cara berikut ini:

1. Menyucikan Air Kencing Anak Laki-laki dan Anak Perempuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:

((بَوْلُ الْغُلَامِ يُنْضَحُ وَبَوْلُ الْجَارِيَةِ يُغْسَلُ *.)) وَهَذَا ((مَا لَمْ يَطْعَمَا فَإِذَا طَعِمَا غُسِلَا جَمِيعًا *.))

“Kencing anak laki-laki itu dengan diperciki sedangkan kencing anak perempuan dengan dibasuh.” Dan hal itu, “Selama keduanya belum mengkonsumi makanan. Adapun sudah mengkonsumsi makanan maka harus dibasuh kedua-duanya.”

 

2. Menyucikan (Bagian Bawah) Sandal adalah Dengan Mengusapkannya ke Tanah. Hal itu didasarkan pada sabda Nabi ﷺ ini:

((إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ الْأَذَى فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُورٌ *.))

“Jika salah seorang di antara kalian menginjak kotoran dengan kedua sandalnya, maka sesungguhnya tanah itu telah menyucikannya.”

 

3. Menyucikan Ujung Pakaian Wanita.
Ujung pakaian wanita yang terkena kotoran maka akan disucikan oleh tanah. Hal itu telah ditegaskan melalui hadits dari Nabi ﷺ, bahwasanya jika pakaian seorang wanita yang berjalan mengenai kotoran di jalanan, maka tanah yang berikutnya menjadi penyuci baginya. Dan sesungguhnya ujung pakaiannya akan menjadi suci olehnya.
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

((يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ *.))

“Ia disucikan oleh tanah sesudahnya.”

 

4. Menyucikan Lantai dan Karpet.
Jika lantai atau karpet terkena kencing atau kotoran orang, maka kotoran itu harus dibuang lalu bekasnya disiram air. Sedangkan yang terkena air kencing maka cukup hanya dengan memperbanyak siraman air. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

((دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ *.))

“Biarkanlah orang itu, dan siramkanlah satu timba atau satu ember air pada bagian yang terkena kencingnya, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan dan tidak diutus untuk memberikan kesulitan.”

Selain itu, bekas kotoran dan air kencing juga bisa dihilangkan dengan istinja’ atau istijmar, sebagaimana yang akan kami uraikan lebih lanjut, insya Allah.

 

B. Darah Haidh.
Darah haidh dapat disucikan dengan cara mengusap dan membasuhnya. Berkenaan dengan darah haidh yang mengenai pakaian, Rasulullah n bersabda:

((تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ وَتَنْضَحُهُ وَتُصَلِّي فِيهِ *.))

“Menyikat, lalu menguceknya dengan air, kemudian menyiramnya, dan baru setelah itu boleh mengerjakan shalat dengan mengenakannya.”

 

C. Jilatan Anjing ke Dalam Bejana.

Rasulullah -ﷺ- bersabda:

((طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ *))، وَفِيْ رِوَايَةٍ (( فَلْيُرِقْهُ *…))

“Sucinya bejana salah seorang di antara kalian jika dijilat oleh seekor anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, dan yang pertama kali dengan menggunakan tanah.” Sedangkan dalam riwayat yang lain disebutkan: “…maka hendaklah dia menuangkannya….”

 

D. Darah yang Mengalir, Daging Babi dan Bangkai.
Allah berfirman:

“Katakanlah, ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya semua itu kotor- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al-An’aam: 145)

Dan kulit bangkai binatang –yang dagingnya boleh dimakan setelah disembelih dengan benar – dapat disucikan dengan disamak, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah ﷺ :

((إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ *.))

“Jika kulit binatang disamak, berarti ia telah suci.”

Sedangkan mengenai bangkai belalang dan ikan, maka telah diriwayatkan dari Nabi n, di mana beliau bersabda:

((أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ *.))

“Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah. Adapun kedua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Sedangkan kedua darah itu adalah hati dan limpa.”

 

E. Wadi.

Yaitu cairan putih dan pekat, yang keluar setelah buang air kecil (kencing) agak keruh. Wadi ini bisa disucikan dengan membasuh kemaluan kemudian berwudhu’. Jika wadi ini mengenai bagian badan maka cukup dengan membasuhnya.

 

F. Madzi.

Yaitu cairan putih dan kental yang keluar pada saat memikirkan hubungan badan atau pada saat bercumbu. Madzi ini termasuk hal yang najis yang agak sulit dihindari sehingga diberikan keringanan dalam menyucikannya. Oleh karena itu, barangsiapa yang terkena madzi:

(( فَلْيَغْسِلْ ذَكَرَهُ وَأُنْثَيَيْهِ وَلْيَتَوَضَّأْ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ *.))

“Maka hendaklah dia membasuh kedua buah dzakarnya dan berwudhu’ seperti wudhu’nya untuk mengerjakan shalat.”

Dan bagian badan yang terkena madzi ini cukup dengan dibasuh saja dan disiram dengan air setelapak tangan ke pakaian yang terkena madzi. Hal itu didasarkan pada hadits Sahal bin Hanif .

 

G. Mani adalah Suci dan tidak Najis.

Cairan yang keluar yang dibarengi dengan rasa nikmat. Keluarnya cairan ini mengharuskan mandi hadats besar. Mani ini adalah suci berdasarkan pada hadits shahih, tetapi disunnahkan untuk menyucinya jika dalam keadaan basah dan menggaruknya jika dalam keadaan kering. Karena, telah diriwayatkan dari ‘Aisyah radiallahu ‘anhu , bahwa ia pernah berkata kepada seseorang yang menyuci pakaiannya karena terkena mani, “Sesungguhnya cukup bagimu jika melihatnya untuk membasuh bagian yang terkena. Jika kamu tidak melihatnya maka perciki air pada bagian di sekitarnya, dan engkau sendiri telah menyaksikan aku menggaruknya dari pakaian Rasulullah ﷺ lalu beliau mengerjakan shalat dengan mengenakannya.”

Di dalam riwayat yang lain disebutkan: “Dan sesungguhnya aku menggaruknya dengan kukuku dari pakaian Rasulullah ﷺ dalam keadaan kering.”

‘Aisyah juga bercerita, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mencuci mani yang mengenai pakaian kemudian beliau keluar untuk menunaikan shalat dengan mengenaka pakaian tersebut sedang aku menyaksikan bekas dari cucian itu di pakaian beliau.

 

H. Binatang yang memakan kotoran makhluk (Jalalah).

Tetapi jika binatang itu karantina sehingga hilang sebutan “binatang pemakan kotoran” dari dirinya maka daging dan susunya tetap suci dan halal setelah ia dikarantina dengan binatang yang tidak memakan kotoran. Hal itu telah ditegaskan oleh Ibnu ‘Umar radiallahu ‘anha, di mana beliau berkata: “Rasulullah melarang memakan daging dan susu binatang pemakan kotoran.”

Dan Ibnu ‘Umar jika hendak memakan binatang pemakan kotoran, maka mengkarantinanya tiga hari.
Dari Rasulullah, yang riwayatnya sampai kepada beliau: “Beliau melarang menaiki atau meminum susu unta pemakan kotoran.”

 

I. Tikus.

Jika ada tikus yang jatuh di minyak (samin/mentega) -baik minyak itu mencair maupun beku- maka bagian di sekitarnya harus dibuang. Dari Maimunah r.a pernah diriwayatkan, bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang seekor tikus yang jatuh di minyak (samin/mentega), maka beliau bersabda:

((أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا فَاطْرَحُوهُ وَكُلُوا سَمْنَكُمْ *.))

“Ambillah tikus itu dan bagian yang ada di sekitarnya, lalu buanglah untuk kemudian makanlah minyak (samin/mentega) kalian itu.”

Itu semua dapat dilakukan jika pada minyak yang tersisa tersebut tidak terdapat bekas najis yang berupa bau, rasa atau warnanya. Jika masih terdapat bekas najis maka harus dibuang, dan selanjutnya kedudukan minyak itu (jika dibersihkan dari najis tadi) seperti air, yaitu: jika tidak ada satu pun dari sifat-sifatnya yang mengalami perubahan oleh najis, maka statusnya tetap suci. Wallahu a’lam.

 

J. Kencing dan kotoran binatang yang halal ataupun yang haram dimakan dagingnya adalah najis kecuali binatang-binatang tidak memiliki darah merah seperti serangga,cecak dan lain-lain.

Hal itu didasarkan pada hadits Jabir radiallahu ‘anha : “Rasulullah melarang mengusap (membersihkan) dengan tulang atau kotoran.” Dan ditegaskan pula bahwa Nabi pernah melarang beristijmar (bersuci dengan benda padat) dengan menggunakan kotoran (tahi) seraya bersabda, “Ini najis.”

Adapun kencing dan kotoran bintang yang boleh dimakan dagingnya adalah suci. Hal itu didasarkan pada perintah Nabi n kepada para sahabat untuk meminum kencing unta. Oleh karena itu, Nabi n pernah mengerjakan shalat di kandang kambing sebelum ada masjid yang dibangun.

Untuk binatang-binatang tidak memiliki darah merah seperti serangga, dan sebangsanya,ulama menegaskan bahwa binatang tersebut dan bangkainya tidak najis. Demikian pula kotorannnya.
Ibnu Qudamah –ulama Madzhab Hanbali– mengatakan:

“Binatang yang tidak memiliki darah merah mengalir, dia suci, sekaligus semua bagian tubuhnya, dan yang keluar dari tubuhnya.” (al-Mughni, 3:252)

Hal yang sama juga disampaikan ar-Ramli –ulama Madzhab Syafii– dalam an-Nihayah:

 

GRUP BAABUSSALAAM

✒ Ustadz Azhar Khalid Seff. LC. MA


WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat)
WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan)
Daftar : 0878 7400 3722
Join telegram channel @sahabatibnuzubair
http://www.attauhid.net

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *