Pemahaman Hadits

Pemahaman yang salah terhadap hadits:

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ .ومَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang baik maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengkutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang jelek maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang yang mengikuti mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)

Hadits ini tidak bisa digunakan sebagai dalil adanya bid’ah hasanah dalam Islam dikarenakan beberapa alasan:

PERTAMA

Bahwasanya makna مَنْ سَنَّ ialah: Mengerjakan suatu amalan dengan cara melaksanakan atau mengikuti yang sudah ada sebelumnya, bukan mengerjakan suatu amalan dengan cara membuat syariat yang baru. Adapun maksud hadits diatas adalah melakukan amalan sesuai dengan yang ditetapkan oleh Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم-, yang menunjukkan hal tersebut adalah penyebab disabdakannya hadits ini, yaitu tentang masalah shadaqah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم-.[1]

KEDUA

Bahwasanya Rasulullah bersabda مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang baik…” sementara itu beliau juga bersabda كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Semua bid’ah adalah sesat”, tidaklah mungkin muncul dari lisan Rasulullah –yang benar dan dibenarkan-, suatu perkataan yang mendustakan perkataan yang lain, tidak mungkin perkataan Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- bertentangan selama-lamanya.

KETIGA

Bahwasanya Nabi –صلّى الله عليه و سلّم- bersabda مَنْ سَنَّ “barangsiapa mengerjakan sunnah”, beliau tidak mengatakan مَنِ ابْتَدَعَ “barangsiapa yang berbuat bid’ah”. Juga bersabda فِي اْلإِسْلاَمِ “dalam Islam”, sedangkanbid’ah bukan dari ajaran Islam. Beliau juga bersabda حَسَنَةً “yang baik”, dan perbuatan bid’ah itu bukanlah sesuatu yang hasanah (baik). Maka jelaslah perbedaan antara Sunnah dengan Bid’ah, karena sunnah adalah jalan dalam rangka ittiba’ (mengikuti), sedangkan bid’ah adalah mengada-adakan hal yang baru di dalam masalah agama.

KEEMPAT

Tidaklah pernah ada seorangpun dari ulama salaf yang memaknakan سُنَّةً حَسَنَةً “sunnah yang baik” dengan bid’ah yang diada-adakan oleh manusia yang datangnya dari diri manusia sendiri.

KELIMA

Bahwasanya makna مَنْ سَنَّ “Barangsiapa mengerjakan sunnah” adalah orang yang menghidupkan kembali suatu sunnah setelah sunnah tersebut telah lama ditinggalkan. Suatu hadits yang menunjukkan hal ini adalah:

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَا عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا.

“Barangsiapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku kemudian mengamalkannya, maka dia mendapat pahala seperti orang yang mengamalkan sunnah tersebut tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengadakan suatu kebid’ahan kemudian dikerjakan (bid’ah itu) maka dia mendapatkan dosa orang yang mengamalkan bid’ah tersebut tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang yang mengamalkan bid’ah itu. (HR. Ibnu Majah no. 204)

KEENAM

Bahwasanya perkataan مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً “Barangsiapa mengerjakan sunnah yang baik” dan ومَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً“Barangsiapa mengerjakan sunnah yang buruk”, pada dasarnya tidaklah mungkin mengandung pengertian “mengerjakannya dengan seenaknya”, karena adanya baik dan buruk hanya bisa diketahui melalui syariat. Maka ketentuan sunnah dalam hadits tersebut adalah, sunnah yang baik menurut syariat, dan sunnah yang jelek menurut syariat pula. Sehingga, seseorang tidak bershadaqah melainkan dengan mencontoh shadaqah yang telah diterangkan, demikian pula dengan sunnah-sunnah lain yang disyariatkan.

Maka sunnah yang jelek merupakan suatu bentuk kemaksiatan yang memang telah ditetapkan oleh syariat bahwa hal tersebut adalah maksiat. Seperti, pembunuhan oleh anak Nabi Adam –عليه السّلام- sebagaimana sabda Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- :

لِأَنَّهُ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

“Karena dia (Qabil) adalah yang pertama kali mengadakan pembunuhan.” (HR. Bukhari no. 3335)

Hal ini termasuk bid’ah, karena sudah ditetapkan dalam syari’at tercelanya dan larangan (melakukan) pembunuhan. (Al I’tisham 1/236)


WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat)
WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan)
Daftar : 0878 7400 3722
Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *