Ucapan bela sungkawa Saat Ta’ziyah

taziyah

Ta’ziyah

Kata “ta`ziyah”, secara etimologi merupakan bentuk mashdar (kata benda turunan) dari kata kerja ‘aza. Maknanya sama dengan al aza’u. Yaitu sabar menghadapi musibah kehilangan.’

Dalam kamus fikih, “ta’ziyah” didefinisikan dengan beragam redaksi, yang substansinya tidak begitu berbeda dari makna kamusnya.

Sekelompok ulama menyatakan : “Berta’ziyah kepada ahlul mayyit (keluarga yang ditinggal mati) maksudnya ialah, menghibur mereka supaya bisa bersabar, dan sekaligus mendo’akannya”.

Imam al Khirasyi di dalam syarahnya berkata: “Ta’ziyah, yaitu menghibur orang yang tertimpa musibah dengan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah, sekaligus mendo’akan mereka dan mayitnya”.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Yaitu memotivasi orang yang tertimpa musibah agar bisa lebih bersabar, dan menghiburnya supaya bisa melupakannya.

Ibnu Qudamah berkata : para ulama bersepakat bahwa hukum ta’ziyah adalah sunnah. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya :
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

Barangsiapa yang berta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut.
[HR Tirmidzi 2/268].

Dalil lainnya, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al Ash menceritakan, bahwa pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Fathimah : “Wahai, Fathimah! Apa yang membuatmu keluar rumah?” Fathimah menjawab,”Aku berta’ziyah kepada keluarga yang ditinggal mati ini.”
[HR Abu Dawud, 3/192].

Maksudnya meringankan tekanan kesedihan dan himpitan musibah yang menimpanya”.
Ta’ziyah boleh diucapkan dengan kata dan ucapan yang dapat meringankan musibah dan menghibur serta menyabarkan hati. Akan tetapi jika seseorang menggunakan kata-kata yang biasa dipakai oleh Nabi ﷺ tentu itu lebih utama.
Diriwayatkan dari Bukhari dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه, katanya: “Saya kirim putri Nabi ﷺ. untuk menemuinya dan menyampaikan bahwa putera saya telah meninggal dunia serta mengharapnya agar datang. Maka Nabi pun mengirim orang buat menyampaikan salam serta mengucapkan:

‘إنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِب

ْ (INNA lillaahi maa akhadza, wa lahuu maa a’thaa, wa kullu syai’in ‘indahuu biajalin musammaa faltashbir)

” Milik Allah apa yang diambil-Nya dan milik-Nya pula apa yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu pada-Nya mempunyai jangka waktu tertentu. Dari itu hendaklah engkau bersabar dan menabahkan hati”

Berkata sekelompok ulama: “Jika seorang Muslim berta’ziyah kepada Muslim lainnya, hendaklah ia membaca doa untuk keluarga yg ditinggal dengan ucapan atau doa berikut ini :

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ

A’DZOMALLAAHU AJROKA, WA AHSANA ‘AZAA AKA WAGHOFARO LIMAYYITIKA

” Semoga ALLAH memberimu pahala ( dikerenakan kesabaranmu) dan memperbaiki dan menentaramkanmu dengan sebaik-baiknya serta memberikan ampunan kepada yg meninggal dunia”

 

Adapun jawaban ta’ziyah itu ialah mengucapkan “amiin” dari pihak yang dikunjunginya serta mengiringinya dengan “Semoga Allah memberimu pahala!”

Wallahu a’lam


GRUP BAABUSSALAAM

✒ Ustadz Azhar Khalid Seff, MA

 

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *