Syarat Sahnya Shalat (Bagian 1)

solat1

Asy-syarth secara etimologis, berarti tanda. Makna tersebut seperti yang terkandung dalam firman Allah Ta’ala:

“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari Kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya…”

(QS. Muhammad: 18)

Secara terminologis , syarat berarti sesuatu yang karena ketiadaannya mengharuskan ketiadaan (yang lain) dan tidak mesti karena keberadaannya mengharuskan keberadaan dan ketiadaan (yang lain) sendirinya seperti :

tanpa wudhu shalat tidak sah, karena wudhu’ merupakan syarat sahnya shalat. Dan keberadaannya tidak mengharuskan keberadaan shalat. Jadi, jika seseorang berwudhu’ maka dia tidak harus mengerjakan shalat.

 

Syarat – Syarat Sahnya Shalat

I. Syarat pertama adalah Islam. Lawannya adalah kafir. Amalan orang kafir itu sudah pasti ditolak, meskipun dia beramal apapun bentuknya.

Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam Neraka.”
(QS. At-Taubah: 17).

Demikian juga dengan firman-Nya:

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
(QS. Al-Furqaan: 23)

 

II. Syarat kedua adalah berakal. Lawannya adalah gila (tidak waras). Orang yang gila tidak dibebani syari’at hingga dia waras.

Hal itu didasarkan pada hadits ‘Ali bin Abu Thalib رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

((رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.))

“Yang terbebas dari hukum itu ada tiga golongan: kepada orang yang tidak waras yang hilang akalnya sehingga waras kembali, kepada orang yang tidur hingga dia bangun, dan kepada anak (kecil) hingga dia bermimpi.”

 

III. Syarat ketiga adalah mumayyiz atau Baligh.

((رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.))

“Yang terbebas dari hukum itu ada tiga golongan:

  • kepada orang yang tidak waras yang hilang akalnya sehingga waras kembali,
  • kepada orang yang tidur hingga dia bangun, dan kepada anak (kecil) hingga dia bermimpi

 

IV. Syarat keempat adalah menghilangkan hadats. wudhu’ untuk menghilangkan hadats kecil, sedangkan mandi junub untuk menghilangkan hadats besar.

Hal itu didasarkan pada firman Allah Azza wa Jalla:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kalian junub maka mandilah, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah muka kalian dan tangan kalian dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.”

(QS. Al-Maa-idah: 6)

Dan juga didasarkan pada hadits Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ telah bersabda:

((لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ.))

“Tidak akan diterima shalat orang yang berhadats sehingga dia berwudhu’.”

Juga pada hadits ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه yang dimarfu’kannya:

((لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ.))

“Tidak akan diterima suatu shalat tanpa bersuci dan tidak juga sedekah dari harta ghulul (harta rampasan perang yang diambil dengan sembunyi-sembunyi).”

Serta pada hadits ‘Ali رضي الله عنه dari Nabi ﷺ , bahwasanya beliau bersabda:

((مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ.))

Berlanjut ke Bagian 2. Insyaa Allah.


GRUP BAABUSSALAAM

✒ Ustadz Azhar Khalid Seff, MA

 

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *