Tata Cara Sholat (Bagian 1)

Ditulis oleh : Ustadz Azhar Khalid Seff, MA

1. Membuat pembatas tempat shalat, jika dalam posisi sebagai imam atau shalat sendirian. Hal itu didasarkan pada hadits Saburah bin Ma’bad al-Juhani رضي الله عنه, dia berkata:

“Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

((لِيَسْتَتِر أَحَدُكُمْ فيِ الصَّلاَةِ وَلَوْ بِسَهْمٍ *.))

‘Hendaklah salah seorang di antara kalian membuat pembatas dalam shalat meski hanya dengan anak panah.’”

 

Juga hadits Abu Dzarr رضي الله عنه, dia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

(( إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلَاتَهُ الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ.))

“Jika salah seorang di atara kalian tengah mengerjakan shalat, maka sesungguhnya dia telah diberi batasan, jika di hadapannya terdapat semacam kayu sandaran sekedup, jika di hadapannya tidak terdapat benda semacam itu, maka shalatnya akan diputus oleh: keledai, wanita, dan anjing hitam.”

Dan mendekatkan diri dari pembatas dan shalat padanya. Hal itu didasarkan pada hadits Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم , di mana beliau bersabda:

((إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا *.))

“Jika salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat maka hendaklah dia shalat menghadap ke pembatas dan mendekat kepadanya.”

 

2. Melakukan takbiratul ihram, yakni dengan berdiri tegak dan dengan mengonsentrasikan hatinya untuk mengerjakan shalat yang dikehendakinya, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Yaitu dengan mengucapkan:
“الله أكبر (Allah Mahabesar),”
seraya menghadapkan pandangan ke tempat sujud dan mengangkat kedua tangan dengan jari-jemari rapat sampai sejajar dengan kedua pundak. Hal itu didasarkan pada sabda Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hadits orang yang kurang baik shalatnya:

((إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ.))

“Jika kamu hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah.”

 

3. Meletakkan tangan di atas dada setelah selesai diangkat: yang kanan berada di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan tangan, dan lengan.

Hal itu didasarkan pada hadits Wa’il bin Hujr رضي الله عنه, dia bercerita: “Aku pernah mengerjakan shalat bersama Nabi صلى الله عليه وسلم, di mana beliau meletakkan tangan kanan beliau di atas tangan kiri pada dada beliau.”
Dan dalam lafazh lain disebutkan:

(( ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ.))

“Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya, pergelangan tangan, dan lengan.”

 

4. Selanjutnya, membuka shalat dengan do’a istiftah. Bacaan istiftah ini bermacam-macam. Boleh memilih salah satunya dan tidak boleh menggabungkannya menjadi satu tetapi boleh membuat variasi dalam setiap shalat.

 

5. Selanjutnya, membaca ta’awwudz

 

6. Selanjutnya membaca:

“بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ (Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang)” (secara sirri / pelan).

Bacaan itu didasarkan pada hadits Anas رضي الله عنه, dia berkata: “Aku pernah mengerjakan shalat di belakang Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman رضي الله عنه, Dan mereka tidak mengeraskan bacaan ‘Bismillahirrahmanirrahim.’”
Dan basmalah merupakan ayat al-Qur-an yang berdiri sendiri.

 

7. Membaca surat al-fatihah

 

8. Setelah selesai membaca al-fatihah, hendaklah membaca: “Amin.” Dibaca jahr dalam shalat jahriyyah, dan dibaca sirr dalam shalat sirriyyah. Kata “Amin” berarti: (Ya Allah, kabulkanlah).

Hal itu didasarkan pada hadits Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata: “Jika selesai membaca Ummul Qur-an (alfatihah), Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengangkat suaranya seraya membaca: ‘Aamiin.’”

Juga didasarkan pada hadits Abu Hurairah رضي الله عنه: “Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda:

((إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.))

‘Jika imam mengucapkan ‘amin,’ maka ucapkanlah ‘amin,’ karena sesungguhnya barangsiapa yang bacaan amin-nya bersamaan dengan bacaan amin Malaikat maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Dan didasarkan pada hadits Abu Hurairah رضي الله عنه: “Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

(( إِذَا قَالَ الْإِمَامُ ( غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ) فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.))

‘Jika imam membaca: ‘Ghairil maghdhubi ‘alaihim wa laa adh-dhaalliin,’ maka ucapkan, ‘Aamiin,’ karena sesungguhnya barangsiapa yang bacaan aminnya bersamaan dengan bacaan Malaikat maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

 

9. Membaca satu surat al-Qur’an setelah membaca al-Fatihah, atau ayat al-Qur’an yang mudah dihafal di kedua rakaat shalat Shubuh dan shalat Jum’at. Dan pada dua rakaat pertama dari shalat Dhuhur, ‘Ashar, Maghrib, dan Isya’, serta pada seluruh rakaat shalat sunnah.
Hal itu didasarkan pada hadits Abu Qatadah رضي الله عنه , dia bercerita: “Rasululah صلى الله عليه وسلم biasa membaca al-fatihah dan dua surat al-Quran pada rakaat pertama dari shalat Dhuhur, memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan memendekkan pada rakaat kedua. Terkadang beliau memperdengarkan bacaan ayat. Dan beliau membaca al-fatihah dan dua surat al-Qur’an pada shalat Ashar; memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan memendakkannya pada rakaat kedua. Dan beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama pada shalat Shubuh dan memendekkannya pada rakaat kedua.”

 

10. Setelah selesai dari bacaan al-Fatihah dan surat al-Qur-an maka beliau diam sejenak sekedar dapat menghela nafasnya sehingga bacaan tidak bersambungan dengan ruku’. Berbeda dengan diam pertama sebelum bacaan alfatihah, di mana pada saat diam itu beliau membaca do’a istiftah.

Hal itu didasarkan pada hadits Hasan dari Samurah dari Nabi صلى الله عليه وسلم “Di mana beliau melakukan itu dua kali (dalam shalat), yaitu: jika membaca istiftah shalat dan jika selesai dari semua bacaan (alfatihah dan surat al-Qur-an).”

At-Tirmidzi menyatakan: “Yang demikian itu bukan hanya pendapat seorang ulama saja. Disunnahkan kepada para imam untuk diam setelah selesai membaca istiftah shalat dan setelah selesai membaca surat (al-Qur’an). Pendapat tersebut juga dikemukakan oleh Ahmad, Ishak, dan para sahabat kami.”

Bersambung ke Bagian 2. Insyaa Allah.

GRUP BAABUSSALAAM

 

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *