Wahai Saudaraku, Masihkah Orang Tuamu Engkau Durhakai ?

jarianak

BismiLLah,

Ketahuilah…

Perilaku durhaka tidak hanya terbatas dalam bentuk perilaku fisik, namun juga perkataan sang anak ketika membentak, bersuara keras dan menghardik kedua orangtuanya, apalagi sampai menyebabkan kedua orang tua itu menangis…

Cara memandang seorang anak yang bermuka masam, sinis dan cemberut serta meremehkan dan merendahkan kedua orang tua juga termasuk perilaku durhaka…

Memberatkan orang tua dengan banyak permintaan (padahal orang tuanya dalam keadaan tidak mampu), lebih mementingkan pasangan hidup daripada orang tuanya, meninggalkan orang tua ketika masa tua atau saat membutuhkan anaknya, bahkan senyuman yang mengandung ejekan kepada orang tua juga termasuk perilaku durhaka…

Akibat durhaka kepada orang tua antara lain

  1. mendapatkan dosa besar.
  2. mendapatkan laknat Allah.
  3. sebagai penghalang untuk masuk surga.
  4. penyebab tidak diterimanya amal shalih.
  5. penyebab doa-doa tidak terkabul.
  6. tidak adanya keberkahan hidup.
  7. tidak mendapatkan ridho Allah.
  8. tidak terhapusnya dosa-dosa.
  9. adzab dan siksanya dipercepat di dunia.
  10. sulit mendapatkan anak yang berbakti.
  11. mendapatkan su’ul khatimah.
  12. dan lain sebagainya.

Sebanyak apa pun ilmu dan amal seseorang maka itu akan percuma, jika perilakunya durhaka kepada kedua orang tuanya…

Amr bin Murrah al-Juhani radhiyallahu ‘anhu berkata :

جاء رجلٌ إلى النبيِّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فقال يا رسولَ اللهِ شهدتُ أن لا إله إلا اللهُ وأنك رسولُ اللهِ وصلَّيتُ الخمسَ وأدَّيتُ زكاةَ مالي وصمتُ رمضانَ فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ من مات على هذا كان مع النَّبيِّين والصدِّيقينَ والشُّهداءِ يومَ القيامةِ هكذا ونصب اصبعَيه ما لم يَعقَّ والدَيه

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata : “Wahai Rasulullah, aku telah bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah utusan Allah. Aku telah shalat 5 waktu, menunaikan zakat hartaku dan berpuasa di bulan Ramadhan”.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang mati atas dasar ini maka ia akan bersama dengan para Nabi, para shiddiqin dan para syuhada pada hari kiamat  seperti ini – sambil mengacungkan 2 jari – selagi ia tidak durhaka kepada kedua orang tuanya” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.2515).

 

رضا الله في رِضا الوالِدِ وسَخَطُ الله في سَخَطِ الوَالِدِ

” Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua” (HR.At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 2501, hadits dari Abdullah bin Amr).

 

ثلاثةٌ لا يقبلُ اللهُ عزَّ وجلَّ منهم صرفًا ولا عدلًا : عاقٌّ ، ومنَّانٌ ، ومُكذِّبٌ بقدَرٍ

” Ada 3 golongan manusia yang mana Allah tidak akan menerima amalan yang fardhu dan yang sunnah dari mereka, yaitu anak yang durhaka, orang yang mengungkit-ungkit dan yang mendustakan takdir”
(HR. Abu ‘Ashim di dalam Kitab as-Sunnah, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 2513, hadits dari Abu Umamah).

 

Dari Abdullah bin ‘Amr berkata : “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah seraya berkata : “Saya datang demi berbaiat kepadamu untuk berhijrah, namun saya meninggalkan kedua orang tuaku menangis”. Maka, Rasulullah bersabda : “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau membuat keduanya menangis” (HR.Abu Dawud, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.2481).

 

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السلَمِيِّ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ، وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

Dari Mu’aawiyah bin Jaahimah as-Sulami bahwasanya Jaahimah pernah datang menemui Nabi lalu berkata : “Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu”. Maka beliau bersabda : “Apakah engkau masih mempunyai ibu ?” Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda : “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya” (HR. Ibnu Majah, an-Nasaa’i dan al-Hakim, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.2485)

 

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung :

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

“Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari”

ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ

Orang itu lalu berkata : “Wahai Ibnu Umar apakah engkau melihat aku telah membalas kebaikannya ?” Ibnu Umar menjawab : “Engkau belum membalas kebaikannya, walaupun satu desahan nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan” (HR.Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 11)

 

رغم أنف ثم رغم أنف ثم رغم أنف قيل من يا رسول الله قال من أدرك أبويه عند الكبر أحدهما أو كليهما فلم يدخل الجنة

“Celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka ?”. Nabi berkata : “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, lalu ia tidak masuk surga”
(HR. Muslim, hadits dari Abu Hurairah).

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu bertanya: “Wahai Rasûlullâh, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perbuatan kebaikanku ?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ibumu,” lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa ?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ibumu,” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa ?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ibumu,” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa ?” Beliau menjawab, “Bapakmu”.
[HR al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548]

 

Wahai saudaraku…

🌻 Bukankah engkau sayang kepada orang tuamu…?

🌻 Bukankah engkau cinta kepada ibu bapakmu…?

🌻 Yang telah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang…

🌻 Yang telah melindungimu di saat engkau butuh perlindungan…

🌻 Yang telah mengurus segala keperluan di saat engkau memerlukannya…

🌻 Yang menyayangi dan mencintaimu dengan setulus hatinya…

🌻 Belumkah tergerak untuk selalu berbakti dan berbuat baik kepada mereka…?

🌻 Belumkah tergerak untuk membahagiakan dan menyenangkan hati mereka…?

🌻 Belumkah tergerak hati, lisan dan langkahmu untuk meminta maaf atas kedurhakaanmu…?

🌻 Belumkah tergerak air matamu, hati dan lisanmu untuk senantiasa memanjatkan do’a dan istighfar untuk mereka…?

 

🔹Mana air mata anak yang shalih…!
🔹Mana air mata anak yang shalih…!
🔹Mana air mata anak yang shalih…!

 

🌻 Ternyata engkau belum juga sadar dari perbuatanmu yang semakin menjauhkanmu dari ampunan dan kasih sayang Allah…

Jika demikian halnya, sungguh malang orang tua yang punya anak sepertimu…

Anak yang tidak tahu berterimakasih dan bersyukur kepada orang tuanya…

Anak yang tidak tahu membalas budi atas kebaikan orang tuanya…

Anak yang tidak tahu bagaimana mengingat jasa-jasa dan pengorbanan orang tuanya…

Biar bagaimanapun, orang tua merupakan sebab sehingga engkau hadir di dunia ini…

Camkanlah hal itu…!

Alangkah indahnya…
Air mata yang selalu berlinang dari munajat seorang anak yang shalih kepada Allah…
Merindukan kemuliaan dan keselamatan bagi kedua orang tuanya…
Taburan doanya menjadi cahaya yang menerangi dari gelapnya ALAM KUBUR…
Doa yang tiada terputus mengalir dari ketulusan dan keheningan hati agar orang tuanya dalam kasih sayang Allah…

 

Dengarkanlah jeritan hati Ibu dan ayahmu…

Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas…

Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu…

Aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita…

Lalu airmataku berlinang-linang dan mengucur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang…

Akan tetapi setelah engkau dewasa dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kesombongan, seolah-olah engkaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan…

Sayangku…

Engkau tak kan mampu memenuhi hak kedua orang tuamu, akan tetapi engkau telah memperlakukanku seperti musuhmu…

Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu…

Sadarlah nak…

Kita semua pasti kan kembali kepada Allah…

Jangan sampai anakmu pun durhaka kepadamu…

Lalu engkau mendapat kesengsaraan di dunia dan setelah kematianmu…

🔹Kami tidak ingin engkau mendapatkan adzab…
🔹Kami tidak ingin engkau mendapatkan laknat…
🔹Kami tidak ingin engkau terhalang masuk surga…

 

Ya Allah…

Berilah hidayah-Mu kepada anak-anakku…
Bukakan hati mereka untuk selalu mengingat-Mu dan selalu berbakti kepada orang tuanya…
Jangan Engkau biarkan mereka tanpa rahmat-Mu…
Jangan Engkau biarkan mereka tanpa bimbingan-Mu…
Hindarkan kami semua dari adzab neraka-Mu…
Masukkanlah kami semua ke dalam surga-Mu…
Aamiin…

GRUP BAABUSSALAAM
✒ Ustadz Najmi Umar Bakkar


WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat)
WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan)
Daftar : 0878 7400 3722
Join telegram channel @sahabatibnuzubair
http://www.attauhid.net

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *