Memilih Pengobat yang Paling Ahli

herbal

Hadits nabi menunjukkan pentingnya berikhtiar dalam bidang apapun untuk mencari orang yg paling ahli dalam bidangnya. Hal ini disebabkan orang yg ahli lebih mudah dan lebih mendekati kebenaran dalam mencapai kebenaran diagnosa. Sehingga akan memudahkan dalam memberikan terapi yang tepat.

Ibnu Qayyim Al Jauziah rahimahullaah meletakkan dasar bagi seorang pengobat yg ahli dalam 20 kriteria kemampuan:

  1. Mencermati jenis penyakit
  2. Penyebab penyakit
  3. Kekuatan penderita
  4. Kondisi metabolisme wajar penderita
  5. Kondisi metabolisme tidak wajar penderita
  6. Usia penderita
  7. Kebiasaan penderita
  8. Musim saat terkena penyakit
  9. Negeri tempat tinggal penderita
  10. Cuaca saat terkena penyakit
  11. Mencermati obat yg akan digunakan
  12. Mencermati kekuatan obat dan penderita
  13. Menghilangkan penyakit dg cara paling aman
  14. Menggunakan metode paling ringan bagi penderita
  15. Meneliti sumber penyakit
  16. Tidak mencampur metode pengobatan yg memiliki efek saling melemahkan
  17. Mencermati kondisi psikis penderita
  18. Perilaku yg baik terhadap penderita
  19. Menggunakan metode pengobatan fisik dan rohani
  20. Memahami prinsip utama pengobatan

Pengobat yang tidak ahli harus bertanggung jawab atas resiko yang timbul (malpraktek)

1. Pengobat yg ahli dan memiliki kompetensi layak di bidang medis dan belum pernah gagal dalam praktek medisnya. Pengibat juga memiliki izin legal untuk berpraktek dan sesuai syar’i.

Bila mendapatkan izin dari penderita untuk melakukan tindakan dan terjadi malpraktek dalam perkara yg harus dilakukan dan jelas ukurannya (sudah ada SOP dan jelas faktor2 resiko dalam melakukan tindakan), maka tidak ada tuntutan yg bisa diajukan.

Sedangkan apabila tindakan yg diberikan merupakan ijtihad, maka ada dua pendapat. Yaitu, harus bertanggung jawab (Imam Syafi’i – bila tidak jelas ukurannya) dan tidak harus bertanggung jawab (Imam Malik dan Ahmad).

2. Pengobat yg tidak ahli namun memaksakan diri berpraktek dan menyebabkan nyawa orang melayang. Maka bila penderita mengetahui tentangvkeadaan pengobat sebenarnya dan setuju atas tindakan pengobat terhadap dirinya, maka pengobat tidak bertanggung jawab.

Sedangkan bila penderita tidak mengetahui kondisi sebenarnya si pengobat, maka pengobat harus bertanggung jawab

3. Pengobat yg ahli dan memiliki izin dan kompeten. Namun, ia melakukan tindakan yg menyebabkan penderita bertambah parah, maka ia harus bertanggung jawab membayar diyat.

4. Pengobat yg ahli dan kompeten, ia berupaya maksimal, memberikan resep namun salah dalam diagnosa, maka harus membayar diyat.

5. Seorang pengobat yg ahli dan kompeten lalu melakukan tindakan tanpa izin penderita, maka ia bertanggung jawab sepenuhnya.

Jika dengan izin penderita maka ia tidak bertanggung jawab. Kecuali melakukan tindakan sewenang2…

Wallaahu a’lam

Muraja’ah:
1. Ath Thibbun an Nabawi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah

2. Al Ahkam wa al Fatwa Asy Syar’iyyah linkatsir minna al Masaili ath Thibbiyyah, ar-Rumaikhon, Dr Ali bin Sulaiman

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

This article has 1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *