Adab Bertanya Yang Benar dan Berpahala Di Group WA, BB, Facebook dll

Magnified illustration with the word Social Media on white background.

Bertanya merupakan salah satu bentuk ibadah, karena seorang hamba berarti sedang melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk memahami ilmu yang ia butuhkan dalam mengamalkan agama ini secara benar.

Nah, supaya bertanya itu mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah Ta’ala, maka hendaknya orang yang bertanya mengetahui adab dan etika dalam bertanya, sehingga insya Allah ia akan diberikan kefahaman dan keberkahan serta dapat mengamalkan ilmu yang ditanyakannya itu.

Beberapa adab dalam bertanya diantaranya :

(1). Ikhlaskanlah diri karena Allah dalam bertanya dan niatkan itu sebagai ibadah kepada-Nya.

Niatnya harus semata-mata untuk menghilangkan kebodohan, bukan untuk sombong di hadapan orang yang berilmu atau riya’ supaya dikatakan orang yang semangat dalam menuntut ilmu atau bertanya dengan maksud untuk merendahkan ustadz yang ditanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka” (HR. At-Tirmidzi no.2654, hadits dari Ka’ab bin Malik, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.106).

Perhatikanlah niat dalam menuntut ilmu. Jangan sampai yang diharap adalah dunia dan pujian manusia atau bertanya dengan niat sekedar ingin dipandang bahwa ilmunya itu banyak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya ia lakukan untuk mencari wajah Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia tidak melakukannya kecuali demi mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium harumnya surga pada hari kiamat” (HR. Ahmad II/338, Abu Dawud no. 3664, Ibnu Majah no. 252, al-Hakim I/85 dan Ibnu Hibban no.78, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 105)

(2). Tidak bertanya kecuali kepada orang yang berilmu atau menurut dugaannya yang kuat ia mampu untuk menjawab.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl [16]: 43).

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawab” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“…Mengapa mereka tidak bertanya jika mereka tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya…” (HR. Abu Dawud no.336).

Yaitu para ahli ilmu yang terpercaya baik dari sisi keilmuan, pemahaman maupun sikap wara’ (kehati-hatian).

(3). Memulai pertanyaan dengan salam.

Disyari’atkan untuk memberi salam sebelum bertanya. Memberi salam sebelum bertanya berlaku terhadap pertanyaan lisan maupun tulisan. Ini termasuk adab Islam yang mulia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

– السَّلامُ قبلَ السُّؤالِ فمن بدأكم بالسُّؤالِ قبل السَّلامِ فلا تجيبوه

Ucapan salam sebelum bertanya. Barangsiapa yang bertanya kepadamu sebelum ia mengucapkan salam, maka janganlah kalian menjawabnya”(HR. Ibnu an-Najar, hadits dari Jabir, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.3699 dan HR. Ibnu ‘Adi dalam al-Kaamil II/303, hadits dari Ibnu Umar, lihat Silsilah ash-Shahiihah no.816 serta Zaadul Ma’aad II/379).

Dalam banyak hadits diketahui bahwa para sahabat sering bertanya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, tapi tetap dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Contohnya adalah seseorang yang pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kapan datangnya Hari Kiamat dan penanya tidak memberi salam lebih dahulu, tapi tetap dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari sini dapat diketahui bahwa mengucapkan salam sebelum bertanya bukanlah sesuatu yang wajib, tapi sangat dianjurkan. Jika dipraktekkan berarti telah ikut menghidupkan sunnah.

Sekiranya mengucapkan salam sebelum bertanya, maka ustadz insya Allah akan menjawab salamnya dengan yang lebih baik atau minimal seperti yang penanya ucapkan.

Inilah kesempatan yang sangat berharga bagi penanya untuk mendapatkan doa dari orang yang berilmu dan shalih. Penanya didoakan ustadz melalui jawaban salam yaitu keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah baginya. Dan insya Allah diijabah, karena doa dari orang shalih tentu lebih utama untuk dikabulkan Allah.

(4). Hendaknya memperbagus pertanyaan tentang ilmu yang bermanfaat, yang menunjukkan kepada berbagai kebaikan dan mengingatkan dari segala kejelekan.

(5). Gunakanlah cara yang baik dalam bertanya dan berdiskusi, dengan bahasa yang penuh sopan santun, lemah lembut dan tidak mengandung penghinaan serta kemarahan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak termasuk umatku orang yang tidak memuliakan yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati seorang ulama (orang yang berilmu)” (HR. Ahmad,  ath-Thabrani dan al-Hakim, hadits dari Ubadah bin ash-Shamit, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 101)

(6). Ketika telah selesai menulis pertanyaan maka sampaikanlah kata terima kasih dan mendoakan ustadz yang akan menjawabnya.

Sungguh sangatlah pantas bila berterima kasih dan mendoakan ustadz yang telah memberikan berbagai ilmu yang nilainya tidak bisa dibandingkan dengan harta.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah kebaikannya itu. Jika engkau tidak mampu membalasnya, maka berdoalah untuknya hingga engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya” (HR. Abu Dawud no.1672, an-Nasaa’i no.2568, Ahmad II/98-99, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.216, Ibnu Hibban no.3400, al-Hakim I/412, hadits dari Ibnu Umar, lihat Silsilah ash-Shahiihah no.254)

“Barangsiapa yang telah diberikan kebaikan kepadanya, lalu ia mengatakan kepada orang yang memberikan kebaikan itu : “Jazaakallahu khoiron (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)”, maka ia telah cukup dalam menyampaikan rasa terima kasihnya” (HR. At-Tirmidzi no. 2035, an-Nasaa’i dalam al-Kubra no. 10008, ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 180 dan Ibnu Hibban no.3404, hadits dari Usamah bin Zaid, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.6368 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.969)

Contoh cara bertanya yang terbaik seperti :

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Afwan ustadz, saya mau bertanya mengapa diri ini selalu cenderung kepada dosa dan maksiat serta sulit diajak untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, padahal saya sudah berusaha untuk senantiasa menghadiri majelis ilmu dan berdoa kepada Allah agar dikuatkan iman ?

Semoga ustadz beserta keluarga selalu dirahmati dan diberkahi Allah Ta’ala

شكرا و جزاك الله خيرا

(7). Janganlah mengadu domba diantara ahli ilmu. Seperti berkata : “Tapi ustadz fulan telah berkata begini dan begitu” dan cara seperti ini termasuk kurang beradab dan sangat tidak sopan. Hati-hatilah terhadap hal seperti ini.

Tetapi jika memang harus melakukannya maka hendaknya berkata : “Bagaimana pendapatmu tentang ucapan yang mengatakan begini dan begitu ?” Tanpa menyebut nama orang yang mengucapkan.

(8). Hendaknya bersabar dalam menunggu jawaban yang telah diajukan. Karena bisa jadi ustadz tersebut sedang sibuk dengan berbagai aktivitasnya atau sedang beristirahat, sakit, melayani tamu, safar dll.

Bukanlah adab yang baik bagi seseorang yang bertanya, yaitu ingin cepat-cepat atau tergesa-gesa dalam memperoleh ilmu. Tidakkah dia berpikir bagaimana perjuangan berat seorang guru dalam meraih ilmunya ?

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :

لا ينال العلم براحة الجسد

“Ilmu tidak akan diraih dengan bersantai” (Tadrib ar-Rawi II/141).

 

خيركم اسلاما احاسنكم اخلاقا اذا فقهوا

“Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaknya jika mereka menuntut ilmu” (HR. Ahmad no.10329, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shoghiir no.3312, hadits dari Abu Hurairah).

Dan tetaplah bersabar ketika menerima jawaban, meskipun jawaban itu mungkin saja tidak memuaskan. Karena terkadang jawaban itu bisa lebih mudah dipahami ketika mendengarkan langsung dan tidak dengan media tulisan.

(9). Janganlah menceritakan aib atau dosa yang pernah dilakukan sendiri, keluarga atau orang lain sehingga diketahui oleh semua anggota group.

Jika masalah itu harus juga disampaikan karena ingin mendapatkan solusi dan pencerahan, maka hendaknya disampaikan secara pribadi saja kepada ustadz tertentu yang di anggap bisa memberikan solusi dan menyimpan rahasia.

(10). Janganlah bertanya hanya sekedar untuk menambah wawasan, tanpa mau mengamalkan.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ لَمْ يَزِدْهُ إِلاَّ كِبْرًا

“Barangsiapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka tidak ada yang bertambah pada dirinya kecuali kesombongan” (Al-Kabaair hal 75 oleh Imam adz-Dzahabi).

‘Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata :

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لاَ يَعْلَمُ

“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membukakan baginya (ilmu) yang belum ia ketahui” (Hilyatul Auliyaa’ VI/163).

(11). Hendaknya yang bertanya tidak marah atau tersinggung ketika diluruskan pemahamannya atau cara bertanyanya yang salah dll.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :

وقد كان السلف يحبون من ينبههم على عيوبهم
ونحن الآن في الغالب أبغض الناس إلينا من يعرفنا عيوبنا !

“Dahulu kaum salaf sangat senang ada orang yang mengingatkan kekurangan mereka, akan tetapi kita sekarang pada umumnya sangat benci kepada orang yang mengingatkan kekurangan kita” (Minhajul Qashidin hal 196),

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata :

من أعظم المصائب للرجل أن يَعْلم من نفسه تقصيراً ..
ثم لا يُبالي ولا يَحْزن عليه

“Termasuk musibah bagi seseorang adalah ketika ia mengetahui kekurangan pada dirinya, kemudian ia masa bodoh dan tidak bersedih terhadapnya”

(12). Tidak mencari-cari keringanan hukum.

Misalnya, penanya bertanya kepada seorang ustadz, lalu karena jawabannya tidak berkenan dalam hatinya, lalu ia pun bertanya lagi ke ustadz lainnya.

Jika jawabannya sesuai dengan hawa nafsunya maka ia pun menerimanya. Ini merupakan bukti bahwa penanya tidak menghendaki syariat kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.

(13). Jangan merendahkan dan melecehkan sang ustadz jika suatu saat ia tidak bisa menjawab pertanyaan.

Yaqut al-Hamawi rahimahullah berkata :

“Orang alim (ustadz) pasti ada saja yang tidak diketahuinya. Bisa saja dia tidak mengetahui jawaban terhadap masalah yang ditanyakan kepadanya, mungkin karena masalah tersebut belum pernah didengar sebelumnya atau karena dia lupa” (Irsyaad al-Ariif 1/24).

Dari Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq bahwasanya ia pernah kedatangan seseorang yang bertanya tentang sesuatu. Maka Qosim menjawab : “Aku tidak bisa menjawabnya”. Orang itu kembali berkata : “Aku terpaksa datang kepadamu karena aku tidak mengetahui orang alim selain dirimu”.

Lalu Qosim menjawab : “Janganlah engkau melihat kepada jenggotku yang panjang dan banyaknya orang yang berada di sekitarku. Demi Allah aku tidak tahu”.

Kemudian ia berkata : “Demi Allah, dipotongnya lidahku lebih aku cintai daripada aku harus mengatakan sesuatu yang aku tidak memiliki pengetahuan tentangnya”

(Adabul Mufti wal Mustafti hal 78 oleh al-Hafizh Ibnu Shalah dan I’lamul Muwaqqi’iin II/165 oleh Ibnu Qayyim).

Dari Haitsam bin Jamil, ia berkata :

“Aku menyaksikan Malik bin Anas pernah ditanya tentang 48 pertanyaan. Ia menjawab 32 pertanyaan dengan berkata : “Aku tidak tahu”

(Adabul Mufti wal Mustafti hal 79 oleh al-Hafizh Ibnu Shalah).

Wahai Saudariku…

❗Sudahkah engkau mengamalkan 13 macam adab bertanya yang benar dan berpahala ini ?

GRUP BAABUSSALAAM

Ditulis oleh: Ustadz Najmi Umar Bakkar – hafidzahullahu

Posted by Dedi Fadilah ibnu Zubair

WAG Sahabat Bilal bin Rabah (Akhwat) WAG Sahabat Masjid at-Tauhid (Ikhwan) Daftar : 0878 7400 3722 Join telegram channel @sahabatibnuzubair

Website: http://www.attauhid.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *