Pentingnya Menghafal dan Memahami Al Quran

http://muslimsforallah.com
http://muslimsforallah.com

Al Quran diturunkan kepada Muhammad Rasulullah selama 23 tahun masa kerasulan beliau. Al Quran di turunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah dengan perantaraan Malaikat Jibril. Malaikat Jibril menurunkan Al Quran ke dalam hati Rasulullah dan beliau pun langsung memahaminya. Hal ini disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah (2) : 9

قل من كان عدوّا لّجبريل فإنّه نزّله، على قلبك بإذن اللهِ مصدّقا لّما بين يديه وهدى وبشرى للمؤمنين

Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Kemudian Rasulullah  mengajarkan Al Quran itu kepada para sahabatnya. Mereka menuliskannya di pelepah daun-daun kering, batu, tulang, dll. Pada saat itu, belum ada kertas seperti zaman modern sekarang ini. Kemudian para shahabat langsung menghafalnya dan mengamalkannya. Demkian Al Quran diajarkan kepada para sahabat-sahabat yang lain. Al Quran dipahami dengan menghafal, bukan sekadar membaca.

Pada saat Rasulullah  telah wafat, banyak terjadi peperangan. Dalam peperangan Yamamah misalnya, banyak para sahabat penghafal Quran yang syahid. Melihat kondisi ini Umar pun meminta Abu bakar sebagai khalifah untuk membuat Mushaf Al Quran. Abu bakar sempat menolak. “Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan?” ujar beliau. Tapi dengan gigih Umar bin Khattab menjelaskan urgensinya pembuatan Mushaf bagi kepentingan kaum muslimin di masa yang datang. Akhirnya, Abu Bakar pun dapat diyakinkan dan kemudian setuju dengan ide Umar bin Khattab.

Abu Bakar pun meminta Zaid bin Haritsah untuk melakukan tugas ini. Zaid bin Haritsah sempat berkata, “Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan?”. Namun, akhirnya, Zaid pun setuju dan mulai mengumpulkan shahifah-sahifah (lembaran-lembaran yang bertulis-red) yang tersebar di tangan para sahabat yang lain. Batu, daun-daun kering, tulang, dll itu pun disimpan di rumah Hafsah.

Barulah pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, Mushaf Al Quran selesai dituliskan sebanyak 5 buah. Satu disimpan Utsman dan 4 yang lain disebar ke Makkah, Syria, Basrah, dan Kufah. Jadi, pada saat itu, para shahabat, tabi’it, dan thabi’i tabiin mempelajari al Quran dengan menghafal karena jumlah mushaf yang sangat sedikit.

Bagaimana dengan kondisi zaman sekarang? Bila kita perhatikan di sekitar kita, di antara teman-teman dan keluarga kita, ada berapa persen di antara mereka yang hafal Al Quran? Berapa persen yang sedang menghafal Al Quran? Mungkin kita susah memberikan persentase karena apabila dihitung dengan jari-jari tangan kita pun, belum tentu genap semuanya.

Kaum muslimin saat ini masih cukup berpuas diri dengan membaca Mushaf Al Quran dan tidak memahami maknanya. Padahal, membaca Al Quran baru langkah awal interaksi dengan Al Quran. Al Quran sebagai petunjuk bagi kita tidak cukup dibaca tapi juga dihafal dan dipahami.

Mungkin, ada sebagian yang berkata, mengapa perlu menghafal? Tidakkah cukup dengan membaca mushaf dan membaca tarjemahan? Ternyata, tidak cukup. Dengan menghafal Al Quran, ada “rasa” (atau zauk) yang diberikan Allah kepada hati kita. Rasa ini didapat karena ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang. Pengulangan kalam-kalam suci itulah yang menjadi “makanan” untuk hati. Dan sesuai dengan ayat di Al Baqarah ayat 97 diatas, Al Quran itu diturunkan ke dalam hati Nabi Muhammad, bukan di akal pikiran beliau. Artinya, Al Quran itu konsumsi atau makanan hati, bukan sekadar pikiran.

Rasa inilah yang menjadikan kita nikmat mengenal Allah , memahami kehendak-Nya dan ringan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. “Rasa” ini kurang ada atau hanya ada sedikit ketika kita hanya membaca tanpa menghafal. Apalagi, bila membacanya tidak diiringi dengan pemahaman artinya. Dan membacanya tidak diulang-ulang. Efeknya sangat berbeda dengan pembacaan yang diulang-ulang.

Kaum muslimin saat ini cukup berpuas diri dengan membaca “buta” Al Quran dan menimba ilmu dari para ustadz, kiai dan pemuka-pemuka agama. Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para penyampai-penyampai risalah agama, kita sebagai hamba Allah , secara individual juga mempunyai kewajiban untuk berusaha memahami Al Quran langsung dari firman-firmanNya.

Bila kita menghafal dan mentadaburi Al Quran, maka Allah ﷻ akan mengajarkan kepada kita pengetahuan melalui hati kita dengan perantaraan ilham. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat Asy Syams ayat 8-10:

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Ilham ini dapat dirasakan dengan dalam hati kita. Bukankah kita pernah bingung tentang suatu masalah, kemudian pada suatu saat kita mememukan cara untuk menyelesaikan masalah dengan baik? Itulah ilham.

Atau ilham itu sebagai furqan atau pembeda mana-mana amal yang haq dan mana-man yang bathil. Sebagai misal ketika kita masuk ke tempat maksiat maka hati kita akan terasa tidak enak, tidak nyaman. Itulah peringatan dari hati kita yang bersih. Furqan inilah yang dibutuhkan di dalam kehidupan ketika berperang dengan bisikan-bisikan syaithan yang membujuk-bujuk kita untuk berbuat maksiat dengan iming-iming duniawi yang menggiurkan. Karena itu sangatlah kita memerlukan furqan yang menjadikan kita mantap mengetahui yang haq dan yang bathil. Seperti disebutkan oleh Allah dalam surat Al Anfaal ayat 29:

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Al Quran juga sebuah petunjuk/pedoman hidup bagi kita kaum muslimin:

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 2)

Jadi, intinya, Al Quan adalah pedoman hidup. Sayangnya hanya segelintir orang yang hafal dan faham Al Quran. Bagaimana Al Quran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim secara individual bila membaca dan memahaminya secara tuntas saja belum dilakukan? Dan banyak di antara kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan belum pernah membaca dengan tuntas Al Quran.

Bayangkan, apabila kita akan pergi ke puncak Gunung Semeru, sebelum pergi kita dibekali dengan peta, rambu-rambu, dan petunjuk-petunjuk oleh seorang pendaki gunung profesional. Tetapi, kita tidak memahami petunjuk-petunjuk tersebut. Apakah kita dijamin akan sampai di puncak Gunung Semeru dengan selamat? Kita mungkin lebih senang bertanya dengan penduduk setempat.

Bila kita bertemu dengan penduduk yang sangat kenal gunung semeru mungkin kita akan sampai dengan selamat. Tetapi bila orang kita tanya juga kurang faham jalan ke puncak gunung, akankah kita sampai ke puncak dengan selamat atau mungkin kita bisa tersesat? Padahal bila kita memahami, petunjuk, peta dan juga bertanya maka kita akan mendapat jalan pintas untuk sampai ke puncak gunung.

Memang solusi pemahaman Al Quran ini tidak akan dapat berhasil bila sistem pendidikan agama tidak berjalan intensif sejak dini. Sebagai permisalan, bahasa Inggris diajarkan sejak SD, maka kita lihat ketika lulus SMA para mahasiswa sudah bisa belajar dari diktat berbahas Inggris. Bila sistem ini diterpakan juga untuk bahasa Arab (sebagai media inti pemahaman Al Quran), ketika berumur 20-25 seorang muslim sudah mulai bisa memahami Al Quran dengan mandiri tentu saja dengan membaca kita-kitab tafsir secara langsung, bukan terjemahannya.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, memahami Al Quran bukan fardhu kifayah yang dibebankan kepada ulama, kiai, atau ustadz, melainkan seperti dicontohkan oleh para sahabat, membaca, menghafal, memahami dan melaksanakan Al Quran dilakukan sebagai kewajiban indivial setiap kaum muslimin.

Bila secara individu seorang muslim meningkat kualitasnya, keluarga yang dibinanya juga akan berkulaitas sehingga akhirnya sebuah masyarakat madani yang dirindukan selama ini juga dapat terwujud.

Demikianlah ceramah singkat tentang Al Quran pada pertemuan kali ini . Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kita menjadi orang-orang yang mencintai Al Quran, membacanya, menghafalkannya, memahaminya dan mengamalkannya. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *